Tanam Palawija Lebih Aman

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang menganjurkan petani yang bermukim di Kabupaten Rembang wilayah timur meliputi Sarang, Kragan, Sedan, Pancur dan Lasem untuk menanam palawija pada masa tanam dua. Pasalnya, lahan padi di kawasan Rembang bagian timur tersebut hingga saat ini banyak yang belum panen.

           
Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang, Suratmin, di kantornya, pekan lalu.

“Sampai minggu kedua Maret lahan pertanian di wilayah timur masih banyak yang belum panen. Luasan mencapai 20 ribu hektar. Oleh karena itu setelah panen sebaiknya mereka menanam palawija saja karena curah hujan akan semakin minim,” tegasnya.
           
Ia menambahkan, area pertanian wilayah timur adalah  lahan tadah hujan dan tidak didukung prasarana irigasi.

“Sehingga apabila kembali menanam padi dikhawatirkan akan puso. Namun bila menerapkan model singgang dipersilahkan. Hanya saja petani harus menghitung aspek untung dan rugi karena hasil panen singgang berkisar 40% dari masa tanam sebelumnya,” tambahnya.

Berdasar data dari BMKG Semarang, sampai dengan akhir Maret, curah hujan turun menjadi 100 mililiter yang berarti kurang memenuhi standar untuk menanam padi.

Ia juga menghimbau kepada petani yang saat ini baru memanen padinya untuk menananami palawija guna mengurangi resiko gagal panen.

“Jika dipaksakan untuk kembali malik dami, resikonya akan lebih besar. Lebih baik menanam palawija yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena peluang keberhasilannya sangat besar,” tegasnya. (Rom)

Iklan

Rembang Butuh 3000 Ha Lahan Tebu Baru

Menyikapi rencana pendirian pabrik gula di Kabupaten Rembang, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang tengah menyiapkan langkah strategis untuk melakukan penambahan luasan lahan tebu hingga mencapai 10.000 hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang, Suratmin mengatakan, unsur utama yang harus dipenuhi terkait rencana pendirian pabrik gula di Rembang adalah luasan lahan tebu.

“Pasalnya pabrik gula harus berkesinambungan dalam berproduksi. Saat ini total areal tebu aktif mencapai 7 ribu hektar, dengan produktivitas per hektar antara 40-50 ton. Sementara untuk memenuhi kebutuhan bahan baku saat pabrik gula nanti bediri, minimal harus tersedia 10 ribu hektare,” katanya, pekan lalu.

Oleh karena itu, lanjut Suratmin, pihaknya tengah berusaha melakukan ekstensifikasi dengan menambah areal tebu untuk memenuhi standar kebutuhan investor pabrik gula.

“Saat ini ada sekitar 8 ribu hektare lahan pasif di seluruh wilayah Kabupaten Rembang yang bisa dimaksimalkan untuk meningkatan jumlah lahan tebu. Dengan bertambahnya areal lahan, investor tidak akan khawatir kekurangan bahan baku,” tambahnya.

Menurut Suratmin, jrencana pendirian pabrik gula di Rembang dialkukan oleh PT Industri Gula Nusantara (IGN). Saat ini pihak investor tengah melakukan pembicaraan serius dengan pemkab setempat terait rencana tersebut.

Untuk merangsang para petani tebu agar menambah areal lahannya, pihaknya juga tengah meyiapkan rencana study banding dengan melibatkan petani tebu ke Blitar, Jawa Timur, untuk melihat secara langsung lahan tebu percontohan milik PT IGN sekaligus memgenalkan varietas tebu unggul yang tengah dikembangkan pihak IGN.

Ditambahkan, pabrik gula baru yang akan didirikan di Rembang berkapasitas 5 ribu tcd (ton crush day) atau sejumlah 5 ribu ton per hari.

“Ini akan membawa dampak positif bagi petani tebu sekaligus mampu menyerap tenaga kerja hingga ribuan orang,” pungkasnya. (Rom)

Sistim Budidaya Intensif Terbukti Tingkatkan Produktivitas Tebu

Puluhan petani tebu Kabupaten Rembang mengikuti study banding ke perkebunan tebu intensif, Perkebunan dan Dagang Gambar, Desa Gambar, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar milik Ibris Sugar Holding Company, 17-20 April, yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang. Rombongan dipimpin Wakil Bupati Rembang, H Abdul Hafidz, didampingi  kepala SKPD terkait.
            
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang, Suratmin, mengatakan, study banding bertujuan untuk mengadopsi ilmu dan teknik bididaya tebu secara intensif yang telah dikembangkan oleh Ibris Sugar Holding Company pada lahan seluar 400 Ha di Desa Gambar, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

“Diharapkan petani tebu di Rembang dapat meniru pola budidaya tanaman tebu secara intensif sehingga produktivitas tebu dapat meningkat,” katanya, Kamis (19/4) di kantornya.

ia menambahkan, dengan pola intensif meliputi teknik budidaya, pemeberian pupuk berimbang serta pemilihan varietas unggul, produktivitas tebu akan maksimal mencapai 100 ton per hektare.

“Di Rembang, rata-rata produktivitas masih berkisar antara 40-50 ton perhektare. Dengan sisitim budidaya intensif, produktivitas akan kita pacu untuk meningkatkan hasil panenan,” tegasnya.

Ibris Holding Company merupakan salah satu calon investor pabrik gula yang membawahi PT Industri Gula Nusantara (IGN). Selama ini, Ibris telah mengembangkan proyek percontohan tanaman tebu secara intensif dengan komoditi kualitas unggul dengan teknologi budidaya modern untuk mencukupi bahan baku pabrik gulanya.
           
“Petani yang turut study banding  mendapatkan teori dan praktek dari mentor yang kompeten di bidangnya meliputi tehnik budidaya tanaman tebu secara baik, sehingga hasil panen per hektar maksimal dan mempunyai rendemen cukup tinggi,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut kegiatan, tambahnya, Pemkab Rembang berupaya mendorong tewujudnya kerja sama yang lebih jauh dengan melakukan penjajagan untuk adanya MoU atau nota kesepahaman terkait pendirian pabrik gula di Rembang.
            
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang Suratmin menambahkan, varietas tebu yang dibudidayakan di lahan percontohan milik Ibris Sugar sebenarnya telah ditanam petani tebu di Rembang, meliputi BL, PS 862 dan 92750.

“Hanya saja yang berbeda terletak di tehnik budidaya sehingga hasilnya ternyata jauh berbeda. Tanaman tebu yang diolah secara benar oleh tenaga ahli Ibris Sugar menghasilkan panen 100 ton per hektar, dengan rendemen 8%. Sementara rata-rata panen tebu di Rembang antara 40-50 ton per hektar, rendemen antara 5-6%.,” imbuhnya lagi.

Kegiatan study banding, lanjutnya, sangat memberikan manfaat karena perwakilan petani tebu memperoleh tambahan pengetahuan teknologi budidaya tebu secara benar, mulai dari penyiapan lahan, pemilihan bibit, penanaman, pemupukan, pemeliharaan dan tebang angkut untuk memperoleh hasil panen maksimal.

“Dari hasil study banding diharapkan petani tebu menerapkan alih teknologi yang dipelajari sehingga produktivitas tebu di Rembang meningkat sehingga kesejahteraan mereka pun terangkat,” pungkasnya. (Rom)

Sistim Budidaya Intensif Terbukti Tingkatkan Produktivitas Tebu

Puluhan petani tebu Kabupaten Rembang mengikuti study banding ke perkebunan tebu intensif, Perkebunan dan Dagang Gambar, Desa Gambar, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar milik Ibris Sugar Holding Company, 17-20 April, yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang. Rombongan dipimpin Wakil Bupati Rembang, H Abdul Hafidz, didampingi  kepala SKPD terkait.
           
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang, Suratmin, mengatakan, study banding bertujuan untuk mengadopsi ilmu dan teknik bididaya tebu secara intensif yang telah dikembangkan oleh Ibris Sugar Holding Company pada lahan seluar 400 Ha di Desa Gambar, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

“Diharapkan petani tebu di Rembang dapat meniru pola budidaya tanaman tebu secara intensif sehingga produktivitas tebu dapat meningkat,” katanya, Kamis (19/4) di kantornya.

ia menambahkan, dengan pola intensif meliputi teknik budidaya, pemeberian pupuk berimbang serta pemilihan varietas unggul, produktivitas tebu akan maksimal mencapai 100 ton per hektare.

“Di Rembang, rata-rata produktivitas masih berkisar antara 40-50 ton perhektare. Dengan sisitim budidaya intensif, produktivitas akan kita pacu untuk meningkatkan hasil panenan,” tegasnya.

Ibris Holding Company merupakan salah satu calon investor pabrik gula yang membawahi PT Industri Gula Nusantara (IGN). Selama ini, Ibris telah mengembangkan proyek percontohan tanaman tebu secara intensif dengan komoditi kualitas unggul dengan teknologi budidaya modern untuk mencukupi bahan baku pabrik gulanya.
          
“Petani yang turut study banding  mendapatkan teori dan praktek dari mentor yang kompeten di bidangnya meliputi tehnik budidaya tanaman tebu secara baik, sehingga hasil panen per hektar maksimal dan mempunyai rendemen cukup tinggi,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut kegiatan, tambahnya, Pemkab Rembang berupaya mendorong tewujudnya kerja sama yang lebih jauh dengan melakukan penjajagan untuk adanya MoU atau nota kesepahaman terkait pendirian pabrik gula di Rembang.
           
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang Suratmin menambahkan, varietas tebu yang dibudidayakan di lahan percontohan milik Ibris Sugar sebenarnya telah ditanam petani tebu di Rembang, meliputi BL, PS 862 dan 92750.

“Hanya saja yang berbeda terletak di tehnik budidaya sehingga hasilnya ternyata jauh berbeda. Tanaman tebu yang diolah secara benar oleh tenaga ahli Ibris Sugar menghasilkan panen 100 ton per hektar, dengan rendemen 8%. Sementara rata-rata panen tebu di Rembang antara 40-50 ton per hektar, rendemen antara 5-6%.,” imbuhnya lagi.

Kegiatan study banding, lanjutnya, sangat memberikan manfaat karena perwakilan petani tebu memperoleh tambahan pengetahuan teknologi budidaya tebu secara benar, mulai dari penyiapan lahan, pemilihan bibit, penanaman, pemupukan, pemeliharaan dan tebang angkut untuk memperoleh hasil panen maksimal.

“Dari hasil study banding diharapkan petani tebu menerapkan alih teknologi yang dipelajari sehingga produktivitas tebu di Rembang meningkat sehingga kesejahteraan mereka pun terangkat,” pungkasnya. (Rom)

Intensive Farming System Proven Productivity Increase Sugarcane

Dozens of farmers Rembang District to follow the case study of intensive sugar cane plantations, Plantations and Trade Pictures, Village Image, District Nglegok, Sugar Ibris Blitar owned Holding Company, April 17 to 20, organized by the Department of Agriculture and Forestry Apex. Delegation led by Vice Regent Apex, H Abdul Hafidz, accompanied by head-related SKPD.

          
Head of Agriculture and Forestry Apex, Suratmin, said the case study aims to adopt science and engineering bididaya intensive sugar cane that has been developed by the Holding Company in Sugar Ibris seluar 400 Ha of land in the Village Image, District Nglegok, Blitar.
“Hopefully, sugar cane farmers in Apex can mimic the pattern of intensive cultivation of sugar cane sugar cane so that productivity can be increased,” he said Thursday (19/4) in his office.
he added, with a pattern of covering intensive cultivation techniques, fertilizer pemeberian balanced and the selection of varieties, the productivity of sugarcane will reach a maximum of 100 tons per hectare.
“At Apex, the average productivity is still ranges between 40-50 tons perhektare. With sisitim intensive cultivation, the productivity will spur us to improve the crop,” he said.
Ibris Holding Company is one of the prospective investor who oversees the sugar mill Sugar Industry PT Nusantara (IGN). During this time, Ibris has developed a pilot project intensively with the sugar cane crop commodities of superior quality with modern farming technologies to meet the raw material sugar factory.

         
“Farmers who participate get a comparative study of theory and practice of a competent mentor include sugarcane cultivation techniques as well, so that the maximum yield per hectare and has a fairly high yield,” he said.
As a follow-up activities, he added, trying to encourage Rembang regency tewujudnya further cooperation with the assessments for the MoU or the Memorandum of Understanding related to the establishment of sugar factories in Apex.

          
Head of Agriculture and Forestry Apex Suratmin added, sugarcane varieties cultivated in a pilot-owned land Ibris Sugar cane farmers had actually planted in Apex, including BL, PS 862 and 92 750.
“It’s just located in different cultivation techniques so the results were far different. Plant cane is processed correctly by experts Ibris Sugar yields 100 tons per hectare, with a yield of 8%. While the average harvest of sugarcane in Apex between 40-50 tonnes per hectare, the yield of between 5-6%., “he said again.
Case study activities, he added, is very beneficial because the representative farmers gain additional knowledge of sugarcane cultivation technology correctly, starting from land preparation, seed selection, planting, fertilizing, maintenance and harvesting of conveyance to obtain maximum yields.
“From the case study of sugarcane growers are expected to apply the technology transfer are studied so that the productivity of sugarcane in Apex increased so that their welfare was raised,” he concluded. (Rom)

والمزارع وصور التجارة، قرية الصورة، منطقة Nglegok، السكر Ibris بليتار مملوكة الشركة القابضة، 17 نيسان إلى 20، التي نظمتها وزارة الزراعة والغابات الرأس. قاد الوفد نائب ريجنت أبيكس، H عبد Hafidz، يرافقه رئيس المتصلة SKPD.

          
وقال رئيس أبيكس الزراعة والغابات، Suratmin، دراسة الحالة يهدف إلى تبني العلوم والهندسة bididaya قصب السكر المكثف الذي تم تطويره من قبل الشركة القابضة في Ibris السكر ها 400 seluar من الأراضي في صورة القرية والمنطقة Nglegok، بليتار.
واضاف “نأمل، والمزارعين قصب السكر في الرأس يمكن أن تحاكي نمط زراعة مكثفة من قصب السكر قصب السكر حتى يمكن زيادة إنتاجية هذا،” قال الخميس (19/4) في مكتبه.
أضاف، مع وجود نمط من تغطية تقنيات الزراعة المكثفة، والأسمدة متوازن pemeberian واختيار الأصناف، وإنتاجية قصب السكر تصل إلى حد أقصى قدره 100 ألف طن للهكتار الواحد.
“في الرأس، ومتوسط ​​الإنتاجية لا يزال يتراوح بين 40-50 perhektare طن. مع زراعة sisitim مكثفة، والإنتاجية وتحفيز لنا لتحسين المحاصيل”، قال.
Ibris القابضة هي واحدة من المستثمرين المحتملين الذي يشرف على سكر معمل السكر الصناعة PT نوسانتارا (IGN). خلال هذا الوقت، وقد وضعت Ibris مشروع تجريبي بشكل مكثف مع السلع محصول قصب السكر ذات جودة عالية مع التقنيات الزراعية الحديثة لتلبية نسبة السكر في المواد الخام للمصنع.

         
“المزارعون الذين يشاركون الحصول على دراسة مقارنة بين النظرية والتطبيق من معلمه المختصة تشمل تقنيات زراعة قصب السكر وكذلك، حتى يتسنى للأقصى غلة الهكتار الواحد، ولها عائد مرتفع الى حد ما،” قال.
باعتبارها أنشطة متابعة، وأضاف، في محاولة لتشجيع التعاون Rembang tewujudnya ريجنسي أخرى مع المقررة لمذكرة تفاهم أو مذكرة تفاهم تتعلق بإنشاء مصانع السكر في الرأس.

          
وأضاف رئيس الزراعة والغابات Suratmin الرأس، وأصناف قصب السكر يزرع في طيارا الأراضي المملوكة للمزارعين Ibris قصب السكر قد زرعت فعلا في الرأس، بما في ذلك BL، PS 862 و 750 92.
“انها تقع فقط في تقنيات الزراعة ومختلف لذلك كانت النتائج مختلفة تماما. تتم معالجتها بشكل صحيح من قبل قصب النبات غلة خبراء السكر Ibris 100 طن للهكتار الواحد، مع تحقيق عائد قدره 8٪. في حين أن متوسط ​​محصول قصب السكر في الرأس بين 40-50 طن للهكتار، ومحصول بين 5-6٪. “، وقال مرة أخرى.
أنشطة دراسة الحالة، وأضاف، مفيد جدا لأن المزارعين ممثل اكتساب معارف إضافية من تكنولوجيا زراعة قصب السكر بشكل صحيح، بدءا من إعداد الأرض، واختيار البذور، وزرع والتسميد والصيانة والحصاد من وسيلة نقل للحصول على أقصى قدر من العائدات.
واضاف “من دراسة حالة لمزارعي قصب السكر ومن المتوقع لتطبيق ونقل التكنولوجيا ودرس بحيث إنتاجية قصب السكر في الرأس زيادة بحيث تم رفع رفاهيتهم”، وخلص. (روم)


Petani Sulang Boro Jadi Buruh Panen

Sebagian petani di Desa Rukem Kecamatan Sulang memilih boro kerja menjadi buruh pemanen padi ke luar daerah sambil menantikan datangnya musim panen padi di kampung sendiri. Hal itu mereka lakukan lantaran minimnya lapangan pekerjaan sambilan yang ada di daerahnya.

Demikian dikatakan Basyuni (35), Warga Desa Rukem Kecamatan Sulang.

“Hampir setiap tahun, ini dilakukan oleh petani di sini. Mereka mencari pendapatan tambahan untuk menghidupi keluarganya sambil menanti tanaman padi mereka menguning. Saat tanaman padi di kampungnya siap panen, mereka kembali pulang untuk memanennya atau menjadi buruh panen bagi tetangganya,” katanya, pekan lalu.

Pada saat tanaman padi memasuki masa pembuahan (berbulir), tambahnya, otomatis intensitas perawatan yang dilakukan petani menjadi berkurang sehingga banyak waktu luang.

“Dan itu dimanfaatkan oleh mereka dengan boro kerja menjadi buruh pemanen padi ke luar daerah. Sedangkan perawatan tanaman padi di kampungnya dilakukan oleh istri atau anak mereka yang di rumah,” tambahnya.

Tak hanya di Desa Rukem, hal sama juga dilakukan oleh sebagian petani di Desa Korowelang, Jatimudo, Karangharjo dan Desa Kunir Kecamatan sulang.

Menurut Daryono (37), salah satu petani asal Desa Jatimudo yang juga ikut boro ke Pati sebagai buruh pemanen padi, mayoritas petani di kampungnya memanfaatkan masa penantian musim panen tiba untuk boro menjadi buruh pemanen padi.

“Sebagai buruh tani, masa seperti ini di kampung tak ada kerjaan. Agar dapur tetap ngebul, harus boro jadi buruh pemanen padi di Pati. Hasilnya lumayan buat mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya.

Ia menambahkan, upah yang diterimanya pun beragam tergantung kesepakatan dengan pemilik lahan.

“Ada yang model borongan per lahan, ada yang model harian ada juga borongan per tonase. Umumnya kami memilih model harian, satu hari diupah Rp50.000.” katanya.

Ia mengaku sudah satu bulan menjadi buruh panen di Pati. Bersama rekan-rekan sekampungnya, ia berpindah-pindah lahan dari pemilik satu ke pemilik lainnya.

“Kami bekerja secara berkelompok, satu kelompok rat-rata terdiri 10 orang. Untuk menekan pengeluaran, kami menginap dirumah pemilik lahan yang hendak menggunakan tenaga kami,” tegasnya.

Saat ini, sebagian besar tanaman padi di Kecamatan Sulang tengah memasuki masa pembuliran. Diperkirakan, panen raya baru akan terjadi pada dua pekan ke depan.

Saat padi telah menguning, para buruh pemanen padi yang boro ke luar daerah akan kembali ke daerah masing-masing untuk bersiap memanen lahan padi yang ditanamnya.

“Jika tanaman padi di kampung halaman sudah siap panen, kami akan pulang untuk memanennya atau mencari pendapatan menjadi buruh panen untuk warga sekitar,” pungkasnya. (Rom)

Persiapan pelaksanakan e-KTP Dikebut

Sejumlah persiapan terkait pelaksanakan program kartu tanpa penduduk elektronik (e-KTP) di Kabupaten Rembang yang dijadwlakan mulai dilaunching pada minggu ke dua bulan April terus dilakukan. Sejumlah peralatan penunjang telah dikirim oleh pemerintah pusat ke kecamatan-kecamatan untuk segera dilakukan pemasangan.

“Sejumlah peralatan penunjang telah diterima oleh pihak kecamatan. Dipastikan sebelum April, semua peralatan sudah terpasang dan siap dioperasikan karena pada minggu ke dua bulan April program e-KTP akan kita laksanakan,” kata Drs Sodiq, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Rembang, Kamis (8/3), di ruang kerjanya.

Ia mengaku, beberapa kendala yang dihadapi antara lain droping peralatan ke masing-masing kecamatan yang tidak serentak.

“Akibatnya, pemasangan peralatan pun juga tidak bisa serentak sehingga berdampak pada kesiapan sistim operasi,” tambahnya.

Meski demikian, ia optimis sebelum April semua kesiapan peralatan yang dipergunakan untuk pelaksanaan program e-KTP semua sudah beres.

“Rentan waktu sebulan ini, semua persiapan akan difinalkan sehingga April semua sudah siap. Saat ini pihak kecamatan tengah melakukan ceking peralatan yang telah dikirim. Sejauh ini belum ada laporan kekurangan kelengkapan terkait alat yang telah diterima,” tegasnya.

Ia menambahkan, kendala lain yang dihadapinya adalah minimnya jumlah peralatan yang diterima kecamatan untuk pembuatan e-KTP.

“Setiap kecamatan hanya mendapatkan 2 set peralatan untuk pembuatan e-KTP. Padahal, untuk wajib KTP yang jumlahnya lebih dari 30.000 jiwa idealnya harus tersedia minimal 3 set peralatan agar proses entrinya  cepat,” terangnya.

Ditambahkannya, pada pertengahan Maret ini pihaknya juga menjadwalkan pelatihan bagi petugas operator kecamatan.

“Masing-masing kecamatan diwakili 2 orang petugas. Mereka akan dibekali ilmu terkait pengoperasian alat untuk e-KTP sehingga pada saatnya nanti, semua npetugas di kecamatan trelah siap melakukannya,” tegasnya.

Agar pelaksanaan e-KTP di Kabupoaten Rembang tidak molor dari jadwal yang ada, tambahnya, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk kesiapan segala sesuatunya.

“Kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat. Diharapkan sebelum April semua perangkat penunjang sudah bisa diuji cobakan,” jelasnya. (Tarom)

Bahan Baku Pakan Ternak di Rembang Melimpah

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang bekerja sama dengan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang menyelenggarakan pelatihan teknik pengolahan bahan baku pakan ternak kepada Ketua Kelompok Tani Ternak dan perorangan pelaku penggemukan ternak sapi, Selasa (21/3).  Pelatihan bertujuan agar petani peternak mampu mengolah bahan baku pakan ternak yang melimpah secara mandiri untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak sendiri sehingga tidak lagi mendatangkan pakan ternak dari luar daerah.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang, Suratmin, mengatakan, potensi peternakan di Kabupaten Rembang cukup menggembirakan  karena ketersediaan bahan baku pakan ternak yang sangat melimpah.

“Bahan baku pakan ternak di Rembang jumlahnya sangat banyak. Ini sangat menunjang kegiatan penggemukan ternak baik oleh perseorangan maupun kelompok. Tinggal bagaimana potensi yang ada dapat dikembangkan secara swadaya untuk mencukupi kebutuhan,” katanya.

Disebutkannya, populasi ternak sapi di Rembang sebanyak 152 ribu ekor, kambing 126 ribu ekor, domba 97 ribu ekor dan unggas 93 ribu ekor. Data tersebut menunjukkan jumlah pakan yang dibutuhkan untuk para peternak di kabupaten Rembang sangat tinggi.

“Sebenarnya, untuk potensi bahan baku pakan ternak di Rembang sangat banyak dan mudah didapat. Antara lain luasan lahan padi mencapai 40 ribu hektar, jagung 25 ribu hektar, tebu 7 ribu hektar, kedelai 6 ribu hektar, kacang hijau dan kacang tanah masing-masing 4 ribu hektar. Limbah dari komoditas tersebut dapat diolah sendiri menjadi pakan ternak. Karenanya kami mengadakan pelatihan ini agar potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal,” tambahnya.

Selama ini, tambahnya lagi, setiap musim kemarau pemilik ternak harus membeli pakan dari luar daerah untuk mencukupi kebutuhan ternaknya dengan biaya yang sangat besar mencapai jutaan rupiah.

“kami berharap seluruh peserta dapat mengimplementasikan hasil pelatihan secara nyata untuk mengantisipasi kelangkaan pakan ternak di musim kemarau. Dengan terpenuhinya kebutuhan pakan secara swadaya, tentu pengeluaran peternak menjadi berkurang sehingga mereka dapat untuk lebih banyak yang pada akhirnya mampu mengangkat derajat kesejahteraan mereka,” tambahnya.

Ditambahkan, Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang akan menindaklanjuti kegiatan tersebut dengan mengupayakan bantuan peralatan tepat guna yang dibutuhkan kelompok tani ternak dan perorangan pelaku penggemukan ternak sapi.

Narasumber dari Fakultas Peternakan UNDIP, Cahya Setyanto  dalam paparannya memperkenalkan dua metode teknik pengolahan pakan ternak dengan alat dan tradisional berbasis bahan baku lokal melaui cara fermentasi dan amonisasi.

“Mengingat potensi di Rembang sangat melimpah dan mudah didapat serta tingkat kesulitan di lapangan, maka pengolahan pakan ternak secara tradisional melalui fermentasi dan amoniasisasi atau gabungan dari keduanya menjadi sangat tepat. Dengan demikian limbah pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak,” tegasnya. (Rom)