Alami Gangguan Penglihatan, Pelajar SD Butuh Bantuan

Diki Firu Saputra (9), siswa kelas 3 SDN Tanjung, Sulang, menderita gangguan penglihatan. Untuk membaca dan menulis, anak satu-satunya pasangan Sakur dan Muntari itu harus menempelkan mata ke buku yang dihadapinnya.

Kendati daya penalaranannya wajar tetapi karena gangguan penyakit mata yang dideritanya, membuat dia sering tertinggal dalam pelajaran membaca dan menulis dibandingkan teman sekelasnya. Namun demikian bocah lelaki usia 9 tahun itu setiap hari tetap bersemangat menuntut ilmu di tempatnya bersekolah.

Suntari, ibu si bocah malang menceritakan bila anaknya diketahui mengalami gangguan penglihatan sejak dilahirkan. Ketika dilahirkan kedua kelopak mata anaknya terpejam hingga beberapa minggu. Baru setelah diobati oleh bidan desa yang mebantu persalinan, mata anaknya bisa terbuka.

“Setelah diberi salep oleh bu bidan, tak lama kemudian kelopak mata anak kami terbuka,” ungkapnya.

Ia menambahkan, saat anaknya berusia 6 bulan baru diperiksakan ke dokter spesialis mata di RSUD Rembang dan dirujuk ke rumah sakit mata Wiliam Booth di Semarang. Dari hasil pemeriksaan dinyatakan anaknya menderita penyempitan saraf mata dan harus dioperasi. Namun operasi baru bisa dilakukan saat berusia 4 tahun.

“Awalnya kami curiga karena saat Diki dililing, kedua matanya tak menunjukkan respon sama sekali. Hingga akhirya kami putuskan memeriksakan dia ke dokter mata dan dirujuk untuk mendapat penanganan lebih intensif,” paparnya.

Menurut Suntari, sejak mendapat advis jika anaknya haarus dioperasi maka dia dan suaminya yang sehari-hari bekerja serabutan, mulai menabung guna membiayaai pengobatan buah hati mereka. Hampir seluruh pendapatan yang kami peroleh setiap hari ditabung guna persiapan pengobatan Diki.

“Saat anak kami berusia 4 tahun, segera dioperasikan di rumah sakit yang sama dan penglihatannya menjadi normal. Waktu itu  menghabiskan biaya sekira Rp 10 juta,” sergahnya.

Akan tetapi tambah Suntari, ketika anaknya hendak masuk sekolah Taman Kanak ternyata penglihatannya kembali seperti sedia kala. Hanya saja masih bisa membacameski  harus dengan menempelkan mata ke buku yang dihadapinya.

“Meski trenyuh dengan kondisi Diki, kami tak sanggup mengobatkan dia karena terkendala biaya,” imbuhnya.

Suntari berharap ada dermawan sudi mengulurkan tangan menyalurkan bantuan untuk keperluan mengobatkan anaknya. “Sebagai orang tua tentu kami ingin Diki sembuh, mempunyai penglihatan normal seperti teman sebayanya,” ujarnya dengan berlinang air mata. (Rom)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s