Menyingkap Misteri Rebo Wekasan

Hari Rabu (10/2) lalu, merupakan hari Rabu terakhir Bulan Shafar pada penanggalan Hijriyah. Masyarakat Rembang menyebut hari Rabu tersebut dengan istilah Rebo Wekasan. Istilah yang kental dengan nuansa mistis yang sering kita dengar sejak kecil hingga sekarang.

Benarkah Rebo Wekasan memendam nilai mistik? Pada umumnya, sebagian besar masyarakat Jawa mempercayai bahwa Rebo Wekasan merupakan hari naas atau hari bala’ atau sial. Agar terhindar dari bala’ tersebut, maka muncullah ritual tertentu yang hingga kini masih terjaga kelestariaanya dan menjadi sebuah tradisi.

Secara lughowi atau harfiah, kalimat Rebo Wekasan berasal dari dua suku kata, yaitu Rebo yang berarti hari Rabu, dan Wekasan yang berarti pamungkas, ujung, atau terakhir. Sedangkan secara terminology, Rebo Wekasan dapat didefinisikan sebagai bentuk ungkapan yang menjelaskan satu posisi penting tentang hari Rabu terakhir bulan Shafar pada penanggalan Hijriyah.

Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab  “Kanzun Najah” karangan Syekh Abdul Hamid Kudus (pernah mengajar di Makkah al Mukaramah), sebagian ulama ‘ahli mukasyafah (sebutan ulama sufi tingkat tinggi) berpendapat bahwa setiap hari Rabu di akhir bulan Shafar diturunkan ke bumi sebanyak 360.000 malapetaka dan 20.000 macam bencana. Keterangan serupa juga terdapat dalam kitab-kitab lain yang telah masyhur kebenarannya.

Kemudian oleh Orang Jawa, Rabu terakhir di bulan Shafar tersebut biasa disebut dengan istilah Rebo Wekasan. Berbagai ritual pun berkembang di tengah masyarakat kita sebagai wujud permohonan do’a kepada Sang Kholik agar terhindar dari mara bahaya. Dari situlah, mistik dan ritual  Rebo Wekasan seakan menjadi tradisi budaya yang selalu turun temurun.

Biasanya ritual tolak bala’ di Rebo Wekasan dibarengi dengan acara sedekahan maupun berbagi sedikit rizki terhadap sesama. Dalam Islam diajarkan bahwa do’a dan sedekah dapat menghindarkan seseorang dari musibah atau bala’.

Di Rembang, ritual Rebo Wekasan dilaksanakan dengan sedekah dan kondangan ketupat. Biasanya kondangan ketupat dilakukan secara berjamaah alias bersama-sama di surau atau langgar-langgar. Dengan disertai niatan yang suci mereka bermunajat kepada Allah agar terhindar dari segala bala’.

Namun ada juga yang melakukan ritual Rebo Wekasan secara sederhana dengan membuat makanan kecil yang kemudian dibagikan kepada tetangga atau orang-orang sekitar. Pada prinsipnya, ritual Rebo Wekasan selalu berwujud sedekahan dengan dibarengi do’a pujian.

Hal tersebut, tentu saja mengacu pada tuntunan agama yang mengajarkan bahwa bersedekah dan berdoa dapat menolak bala’. Selain itu kedua amalan tersebut juga merupakan ritual ampuh untuk mendapatkan berbagai kebaikan dan kemudahan dari Allah SWT. Wallohu a’lam. (Rom)

1 Comment

  1. gak tau lho ternyata di mBanyurowo kajatan di mesjidnya lucu gini…masih pake daun pisang…di Karanganyar yang notabene cuma sepelemparan arit..(weits,…endho!),udah pake wakul plastik yang dibungkus tas kresek…isinya udah sebebas2nya…biasanya aku isi buah buahan ato jajanan anak2 walaupun nilai ekonomisnya ‘lebih mahal’tapi gregetnya gak dapet…habis mau gimana lagi…repots masaknya…:) tapi ‘besek’ ku jadi incaran anak2 lho,kadang2 udah dibooking,kadang juga diampiri dirumah…lhoh…terus dadi apa iki…lama lama luntur deh tradisi nenek moyang kita …ya maap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s